Selasa, 08 Desember 2009

Naskah Drama























SINOPSIS

Sebuah cerita yang melatarbelakangi kehidupan pada zaman sekarang, kehidupan yang penuh dengan liku-liku, tipu daya dan masalah yang datang silih berganti. Begitu juga dengan kehidupan yang terjadi pada naskah festival, salah satu tokoh yang bernama Mbah Joyo tiba-tiba menghilang dan membuat semua warga resah dan akhirnya keributan pun terjadi. Kasmun, Mitro dan Gubil sebagai penonton festival topeng akhirnya mendebatkan hilangnya Mbah Joyo dan menfitnah Jarkoni yang menyebabkan hilangnya Mbah Joyo. Di sisi lain, Jarkoni selingkuh dengan Laras yang masih berstatus istri Genggong, jelas-jelas Genggong dalam keadaan sakit. Sampai akhirnya Genggong meninggal dunia dan menyebabkan semua warga sedih dan merasa kehilangan, terutama Jarkoni dan Laras. Sampai suatu hari semua mengetahui bahwa yang bersalah dan yang menyebabkan hilangnya Mbah Joyo adalah Genggong, orang yang selama ini dianggap baik dan menjadi panutan semua warga teryata memakai topeng untuk menutupi belakang. Orang yang berniat jahat pada akhirnya akan ketahuan dan alam akan menghukumnya. Buka topeng sekarang dan tidak usah lagi cari muka, karena Cuma pekerja keras yang hanya kelihatan mukanya.

NASKAH DRAMA/TEATER

“FESTIVAL TOPENG”

Karya: Budi Ros

ADEGAN 1

Kasmun, Mitro, Gubil, Panitia/Genggong, Mbah Joyo

Muncul beberapa penari topeng dengan gerak gerik tariannya sehingga memeriahkan acara festival topeng.

Kasmun : Wah, ini baru festival. Hebat… hebat, pesertanya banyak.

Gubil : Ya. Belum pernah sebanyak ini.

Mitro : Kalau tidak, percuma dong. Sumbangan kita tahun ini juga paling besar.

Kasmun : Buset! Topeng apa itu, Bil? Serem amat. Kayak memedi sawah.

Gubil : Diam kamu. Tahu apa selain cangkul dan combronya Jamilah? Ini seni monyong!

Mitro, Kasmun, Gubil : (TERTAWA)

Mitro : Apanya yang seni? Berani bertaruh, nggak bakalan menang, Bil. Jauh… jauh.

Gubil : Menang kalah urusan belakang, yang penting partisipasinya. Partisipasi terhadap seni topeng. Ini hiburan sehat, sekaligus melestarikan tradisi leluhur.

Kasmun : Leluhur siapa? Leluhur kita sudah lama mati, Bil.

Kasmun, Mitro, Gubil : (TERTAWA)

Panitia/Genggong : Saudara-saudara, mohon tenang!

Gubil : Wah, lihat itu! Ada lagi yang aneh. Rada aneh kelihatannya.

Kasmun : Yang mana?

Gubil : Itu yang warna ijo.

Mitro : O, ya itu. Bagus itu.

Kasmun : (MENGAMATI) Itu? Apanya yang bagus, kayak genderuwo begitu.

Panitia/Genggong : Mohon tenang saudara-saudara. Tenang! Tertib!

SETELAH SEMUA TENANG

Panitia/Genggong : Harap jangan mengganggu peserta. Ini bukan acara guyonan. Ini serius. Sakral. Para leluhur bisa marah dan desa kita terancam bahaya. Jadi, mohon tenang dan tertib.

IRING-IRINGAN TERUS BERGERAK MENGELILINGI LAPANGAN FESTIVAL. TETABUHAN YANG MENGIRINGI JUGA TETAP BERSEMANGAT.

Gubil : Wah, siapa lagi itu? Satu wajah bawa banyak topeng. Edan, edan…

Mitro : Pasti dia penggemar Dasamuka. Si muka sepuluh, alias si boros muka. Eit, itu sepertinya Mbah Joyo, bukan?

Kasmun : Apa? Mbah Joyo tidak pakai topeng? Mana? (MENCARI-CARI, KEMUDIAN MELIHAT) ah, ya betul, mbah Joyo tidak pakai topeng. (MENDEKATI MBAH JOYO) Mbah, mana topeng termashyur itu? Mana Mbah, Mbah…

(MBAH JOYO DIAM SAJA, WAJAHNYA DINGIN)

Kasmun : Lihat saudara-saudara, lihat. Mbah Joyo tanpa topeng.

(SEMUA ORANG HERAN, IRING-IRINGAN FESTIVAL TERUS BERJALAN HINGGA TIDAK TERLIHAT LAGI)

PANITIA MEMBERIKAN SAMBUTAN DAN PENGARAHAN KEPADA SELURUH PESERTA FESTIVAL. SEMUA TAMPAK SEMANGAT, MERIAH NAMUN TERTIB.

Panitia/Genggong : Nah, saudara sekalian, seluruh warga yang saya cintai. Kami tidak akan panjang lebar, sebab tugas kami yang utama adalah membuka dan menutup acara festival ini. Kami hanya berpesan agar acara ini berlangsung see.. meriah mungkin, see.. khidmad mungkin, namun tetap aman dan tertib.

ACARA FESTIVAL TOPENG BERLANGSUNG, HINGGA PENAMPILAN YANG TERAKHIR. MUNCULLAH MBAH JOYO DI TENGAH PANGGUNG DENGAN MUKA TETAP DINGIN. KEMUDIAN MBAH JOYO MENGANGKAT TANGANNYA. BERHENTI SEJENAK, MENYIBAKKAN JUBAHNYA DAN MENGELUARKAN TIGA BUNGKUSAN YANG BERISI TIGA TOPENG. TOPENG TERSEBUT DISODORKAN KEPADA PENONTON, DAN MEMBUNGKUSNYA KEMBALI DENGAN KAIN PUTIH.

Mbah Joyo : (SUARA SERAK DAN BERAT)

Saya sudah capek, capek! Kepada kalian generasi muda topeng-topeng ini saya titipkan. Topeng saya sekarang adalah wajah saya sendiri. Maaf. Terima kasih.

(MBAH JOYO MENGHILANG)

ADEGAN 2

Kasmun, Mitro, Gubil

BEBERAPA SAAT SETELAH FESTIVAL TOPENG

Kasmun : Apa kata saya tadi? Firasat saya jelek, jadi macam-macam pula kejadiannya. Masa festival jadi rebut nggak keruan.

Mitro : Sudah debatnya?Usulnya?

Gubil : Kami tidak debat, kang. Kami hanya usul kepada panitia supaya festivalnya ditunda. Menunggu jatuh hari baik, misalnya. Atau dibubarkan.

Mitro : Sudah, sudah. Jadi siapa pemenang festival tadi?

Kasmun : Siapapun pemenangnya, buat kita kan sama saja. Kita cuma penonton. Yang perlu dipikirkan adalah Mbah Joyo. Ini menyangkut keselamatan jiwa manusia.

Gubil : Betul kata Kang Kasmun. Mbah Joyo… di mana sesepuh kita sekarang.

Kasmun : Sebaiknya kita cari di mana keberadaan Mbah Joyo.

Mitro : Ini menjadi persoalan penting kita semua. Kita harus bekerja sama dengan Pak Jarkoni sebagai lurahnya.

Gubil : Tapi, pak lurahnya lagi ada urusan di luar kota Kang. Kurang jelas urusan apa. Sebaiknya kita bergegas.

Kasmun : Sepakat, akur…

ADEGAN 3

Warti, Sukasih, Kasmun

Warti : Ah, bikin capek saja. Baru datang sudah bubar.

Sukasih : Biasanya juga seharian penuh. Ini tumben pakai ribut-ribut lagi.

Warti : Emang kenapa itu tadi, Mbah Joyo kok dibawa pergi?

Sukasih : Iya, kenapa itu? Dulu zaman saya kecil, kalau ada festival topeng semua orang pasti gembira. Wajah mereka sumringah.

Warti : Saya juga nggak tahu Yu, denger-denger banyak yang ngatur. Jadi…

Sukasih : Begitu ya? Ah, dulu nggak ada yang ngatur, semuanya grengseng saja, jalan saja…

KASMUN LEWAT BERGEGAS, WARTI MEMANGGIL.

Warti : Kasmun, tunggu Kasmun!

KASMUN BERHENTI.

Sukasih : Itu kenapa tadi kok cepet bubaran? Kenapa ribut-ribut? Ada apa itu?

Kasmun : Anu, Yu, belum tahu saya. Pokoknya sampean pulang saja dan nggak usah banyak tanya. Anu, kalau ada yang tanya, bilang saja nggak tahu.

Sukasih : Nggak tahu…nggak tahu. Biasanya kamu serba tahu. Terus, Mbah Joyo? Eh, Kasmun, Kasmun…uh, dasar…

ADEGAN 4

Laras, Panitia/Genggong, Lurah/Jarkoni, Mitro, Gubil

Laras : (MENYODORKAN JAMU DALAM GELAS)

Ayo Pak, Ayo… habiskan jamunya supaya sembuh. Tadi pagi sudah tidak habis, sekarang tidak habis lagi. Kapan sembuhnya. Jangan terlalu perhatian pada urusan desa ini Pak, Bapak kan bukan lurah lagi. Kalau semua urusan tetek bengek desa masih Bapak yang urus, kalau sakit begini siapa coba yang repot? Ayo, tiga sendok lagi.

Panitia/Genggong : Aduhhh… tidak tahan aku, pahit sekali. Sudahhh, sudahhh… pahit…

Laras : Kalau tidak mau minum jamu, jangan sakit, Pak. Dari dulu kok nggak berubah. Sadar Pak, sadar. Usia bertambah, umur berkurang. Sadar…

Panitia/Genggong : Sudah Bu, sudah. Kalau kamu banyak ngomel, kapan saya sembuh? Yang bikin saya sakit ya omelan kamu. Tapi, kamu nggak sadar juga.

Laras : Eee… malah saya yang disalahkan.

LURAH/JARKONI, MITRO, DAN GUBIL DATANG.

Panitia/Genggong : Jarkoni? Mitro? Gubil?

Lurah/Jarkoni : Iya, Kangmas.

Mitro : Saya Kangmas.

Gubil : Dalem, Kangmas.

Laras : Wahh, sepertinya ada urusan penting ini, Dik Jarkoni, Dik Mitro, Gubil.

Panitia/Genggong : Bagaimana? Ada berita apa? Saya sampai khawatir ada apa-apa dengan kalian.

Laras : Saking khawatirnya sampai sakit, Dik Jarkoni.

Lurah/Jarkoni : Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Mbakyu, Kangmas, Mitro sudah menyelesaikan semua, atas instruksi saya.

Panitia/Genggong : Bagus, bagus. Apa jawaban yang kamu berikan pada warga desa mengenai Mbah Joyo?

Mitro : Saya memakai jawaban standar berantai, Kangmas.

Panitia/Genggong : Standar berantai? Apa itu?

Mitro : Ya, artinya saya memberikan jawaban standar pada warga desa yang menanyakan soal Mbah Joyo. Jawabannya tidak saya sampaikan sendiri kepada mereka, tapi lewat orang yang masuk dalam jerat saya.

Panitia/Genggong : (KAGUM) O, begitu?

Gubil : Betul, Kangmas. Dan, cara itu ternyata sangat jitu dan rittu.

Panitia/Genggong : Rittu? Wah, istilah apalagi itu?

Gubil : Rittu artinya irit waktu, Kangmas. Sebab saya tadi menyampaikan jawaban itu satu per satu pada para penanya, tapi cukup satu dua orang yang masuk dalam jerat rantai saya itu.

Panitia/Genggong : Ah, bagus kalau begitu, Bagus. Tapi omong-omong siapa yang masuk dalam jerat rantaimu?

Mitro : Siapa lagi kalau bukan pemuda yang paling vocal di desa ini.

Panitia/Genggong : Astaga, Mitro. Benar-benar hebat kamu. (MENDADAK BERDIRI) saya langsung sembuh mendengar laporanmu. Mana jamu tadi Bu, biar ku minum semua. (JALAN MONDAR-MANDIR)

Laras : Hati-hati Pak, jangan dibawa jalan dulu. Tenang dulu…

Lurah/Jarkoni : Syukurlah kalau Kangmas sembuh, kami bisa segera konsultasi.

Panitia/Genggong : Konsultasi? Kalau soal itu kapan saja bisa. Kapan? Mau sekarang? Bisa, bisa. Ayo, soal apa?

Lurah/Jarkoni : Anu, Kangmas, soal hilangnya Mbah Joyo. Saya mesti kasih jawaban apa. Tidak mungkin saya selalu menggunakan jawaban standar berantai terus.

Panitia/Genggong : Aduhh, betul… betul. Tapi, aduh… kamu bilang semua sudah beres tadi. Pusing jadinya saya. Aduh, kumat lagi darah tinggi saya. Bu… (BADAN LEMAS DAN PUSING)

Laras : (MEMIJIT TENGKUK GENGGONG SUAMINYA) sudah Pak, sudah… makanya tenang dulu, tenang…

Panitia/Genggong : Bagaimana bisa tenang kalau begini. Pusing… mana obat gosok, mana balsam? Mana Bu…

GENGGONG BERJALAN SEMPOYONGAN.

Laras : Begitulah suami saya, sakit, sembuh, sakit, sembuh. Dia memang pria karier, dan akibatnya saya kapiran. (SAMBIL MEMBAWA SUAMINYA MASUK KE DALAM KAMAR)

ADEGAN 5

Lurah/Jarkoni, Laras

MALAM BERIKUTNYA, HUJAN CUKUP DERAS. LURAH/JARKONI BERTAMU KE RUMAH PANITIA/GENGGONG.

Lurah/Jarkoni : (MENGETUK PINTU, TAPI TAK ADA JAWABAN) Mbakyu, Mbakyu… ini saya, tolong buka pintu.

Laras : Ada yang penting?

Lurah/Jarkoni : Tentu Mbakyu, Kangmas?

Laras : Sudah tidur. Mana pernah tidur lewat jam 9. Tidak apa saya bangunkan nanti.

Lurah/Jarkoni : Oh, tidak usah. Saya ada perlu sama Mbakyu…

Laras : Sama saya?

SETELAH MEMANDANGI LARAS, JARKONI MELUTUT DAN MEMELUK KAKI LARAS. MENGUNGKAPKAN RASA KANGENNYA.

Jarkoni : Aduh Mbakyu, kangen sekali rasanya, ahh…

Laras : Lo, katanya ada perlu kok begini?

Jarkoni : Kangen itulah keperluan saya, Mbakyu.

Laras : (JUGA MELUTUT) Oh, Dik Jarkoni… kalau boleh jujur, saya juga sangat kangen. Oalah… Dewa Batara. Kenaoa ada rasa yang disebut kangen? Kenapa bukan pada suamiku seorang? Ngenes-ngenes… (MENANGIS)

Jarkoni : (KHAWATIR) Mbakyu, tenang Mbakyu. Jangan keras-keras, nanti Kangmas bangun.

Laras : Biar saja dia dengar. Ini sebuah keajaiban. Apa salahnya, iya kan?

Jarkoni : Sekarang waktu yang tepat bagi saya untuk konsultasi. Biar dia tambah stress. Darah tingginya kambuh lagi.

Laras : Tapi saya ada satu permintaan?

Jarkoni : Katakan yang Mbakyu minta.

Laras : (BERBISIK) …

Jarkoni : (KAGET) Ah, yang betul? Tapi, dimana?

Laras : Di sudut situ saja Dik Jarkoni. (SAMBIL MEMEGANG TANGAN JARKONI)

SAYUP-SAYUP TERDENGAR SENANDUNG MERDU DI SUDUT RUANGAN, ITULAH RUPANYA YANG DIMINTA LARAS KEPADA LURAH JARKONI. BERSENANDUNG BERDUA.

KEMUDIAN TERDENGAR SUARA GENGGONG DENGAN NAFAS TERSENDAT-SENDAT. RUPANYA GENGGONG TERKENA SERANGAN JANTUNG, AKIBAT MENDENGAR BERITA MENGENAI MBAH JOYO.

Panitia/Genggong : Aduh, mana air putih? Bu, tolong air putih…

GENGGONG MEMEGANG DADANYA, IA TAMPAK BERUSAHA DAN TENANG, TAPI TIDAK KUASA. KEMUDIAN AMBRUK DAN PINGSAN.

Laras : (DINGIN) Sukses kamu Dik Jarkoni, sukses kamu. Di balik sikapmu yang lembut tersimpan kekejaman yang luar biasa.

Lurah/Jarkoni : Saya capek, Mbakyu. Terlalu lama saya menjadi bayang-bayang Kangmas, maafkan saya. Capek saya. (MENANGIS)

ADEGAN 6

Gubil, Kasmun, Mitro, Jarkoni/Lurah, Mbah Joyo, Laras

SPANDUK SELAMAT DATANG, UMBUL-UMBUL, TETABUHAN, TUMPENG, BERHARAP SUPAYA MBAH JOYO PULANG.

Gubil : (MEMIMPIN YEL) Hidup Mbah Joyo!

Kasmun : Hidup Mbah Joyo!

Gubil : Hidup Mbah Joyo…

Kasmun : Mbah Joyo pulang, semua senang!

Gubil : Mbah Joyo pulang, semua senang…

Kasmun : Mbah Joyo hilang, warga meradang!

Gubil : Mbah Joyo hilang, warga meradang…

Semua : Hidup Mbah Joyo… Selamat datang Mbah Joyo…

Mitro : (MARAH) Setop. Saudara-saudara! Setop! Ini apa maksudnya? Apa-apaan ini? Setop!

SEMUA DIAM.

Mitro : Siapa yang memimpin kalian?

Gubil : Ini inisiatif sendiri-sendiri.

Kasmun : Ya, sendiri-sendiri. Untuk apa pemimpin? Kami sudah tidak percaya pemimpin.

JARKONI MUNCUL.

Lurah/Jarkoni : Kasmun betul. Sandiwara sudah selesai. Mbah Joyo orang baik, dan warga mengharapkan beliau pulang.

Mitro : Kamu menghianati Mas Genggong? Menghianati saya?

Lurah/Jarkoni : Saya melakukan apa yang menjadi tuntutan warga desa. Saya lurah.

Mitro : kamu tidak mungkin jadi lurah, tanpa dukungan saya dan Mas Genggong. Warga sudah tahu, kamu terlibat penahanan Mbah Joyo.

Lurah/Jarkoni : Semua warga berpihak kepada Mbah Joyo. Jadi aturan akan saya ubah. Namanya boleh saja Festival Topeng, tapi kalau ada warga yang tidak pakai topeng ya boleh saja. Wajah kita kan topeng juga.

Mitro : Penghianat kamu Jarkoni! Sialan!

MITRO LEPAS KENDALI. IA MENYERBU JARKONI. MBAH JOYO DAN YANG LAIN AKHIRNYA DATANG.

Mbah Joyo : Tunggu saudara-saudara! Setop! Jangan diteruskan lepaskan dia.

Kasmun : Dia yang menyuruh orang untuk menculik Mbah Joyo. Dia layak mendapat hukuman.

Mbah Joyo : Itu baru dugaan, wong saya yang diculik saja tidak tahu siapa yang menculik!

Mitro : Mbah, sebaiknya Jarkoni jangan dilepas. Kita harus tangkap semua orang yang dicurigai.

Mbah Joyo : Tunggu saudara-saudara, jangan keburu nafsu. Orang yang berniat jahat, pada akhirnya akan ketahuan. Dan, alam akan menghukumnya. Tidak perlu balas dendam. Nanti jadi geger terus-terusan. Nah, saya lihat kalian ada yang bawa tumpeng. Ayo, tunggu apa lagi? Ayo, semua makan, nanti kita bicara lagi.

BELUM SEMPAT MAKAN, TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA TANGIS SEORANG WANITA.

Laras : (MUNCUL) Toloooong… tolonggggg… suami saya, suami saya… olong… (LARAS PINGSAN).

Lurah/Jarkoni : Mbakyu? Ada apa? Kangmas kenapa?

ADEGAN 7

Mbah Joyo, Laras

DI DEPAN JENAZAH GENGGONG, LARAS MENANGIS. MBAH JOYO MEMBERI SAMBUTAN.

Mbah Joyo : Saudara sekalian, hari ini kita kehilangan salah seorang warga terbaik kita. Kepergian saudara Genggong menjadi puncak duka cita di desa kita. Sungguh sangat disesalkan. Semoga kita yang ditinggalkan, juga tabah dan sehat.

Semua : Aminnn…

SEMUA PERGI.

ADEGAN 8

Gubil, Kasmun, Mitro

Gubil : Ah, sepi sekali rasanya. Sejak peristiwa geger itu, kira-kira tahun depan masih pada mau ikut Festival Topeng lagi nggak ya?

TIDAK ADA YANG MENYAHUT.

Gubil : Heh, diajak ngomong kok pada diam semua.

Kasmun : Festival Topeng bikin geger saja kok ditunggu-tunggu.

Gubil : Siapa yang nunggu. Saya cuma tanya.

Mitro : Lebih baik kita berpikir, supaya kita tetap bisa makan dan masa depan lebih jelas.

Kasmun : Saya ingin masuk partai.

Gubil : Apa? Tidak salah dengar, Kasmun?

Kasmun : Kalian ingat, waktu saya mengumpulkan warga di tanah kosong! Nah, itu modal saya masuk partai. Pidato saya jauh lebih baik dan didengar orang dari pada pidato Lurah Jarkoni.

Mitro : Cukup… masuk partai cuma modal pidato?

Kasmun : Yang lain kan bisa dipelajari sambil jalan. Orang lain malah banyak yang tidak pakai modal.

Gubil : Apa untungnya masuk partai?

Kasmun : Lewat partai kita bisa punya kekuasaan. Bisa menangkap orang macam Jarkoni, Genggong…

Mitro : Sttt… jangan bawa-bawa orang yang sudah meninggal. Mbah Joyo bilang juga tidak baik…

Kasmun : Mbah Joyo memang baik. Tapi kelewat baik juga tidak baik.

Gubil : Maksudnya?

Kasmun : (BERGAYA POLITISI DI MIMBAR)

Saudara-saudara sekalian, hukum harus ditegakkan! Mari kita membangun demokrasi. Kita ciptakan pemerintahan yang bersih. Kita berantas KKN. Kita bisa, kalau kita mau.

Tapi maaf saudara-saudara, malam sudah larut. Waktu saya terbatas. Sampai bertemu pada rapat berikutnya. Selamat malam. (PERGI)

Gubil : Buset…

Mitro : Bisa begitu?

Gubil : Edan…

SEMUA PERGI.

ADEGAN 9

Gubil, Mitro, Kasmun

FESTIVAL TOPENG KEMBALI DIGELAR. KASMUN, GUBIL, DAN MITRO IKUT JADI PESERTA. SELURUH TUBUHNYA NYARIS TERTUTUP TOPENG-TOPENG MEREKA.

Gubil : Wah, meriah sekali… ini lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya.

Mitro : Pesertanya semakin banyak, juga topengnya.

Gubil : Zaman apa ini, Kasmun? Semua orang ingin jadi pemain.

Mitro : Zaman sudah berubah. Panggung Festival Topeng memang penuh magnet… (TERTAWA)

Gubil : Kasmun, hebat kamu. Topengnya banyak betul. Coba dari dulu ikut festival, kamu pasti menang.

Mitro : Ya, topeng kamu bagus-bagus, Kasmun. Tapi kelihatannya galak-galak.

Kasmun : Biar galak asal menang… (SAMBIL MEMBUKA DAN MELEPASKAN TOPENGNYA)

SEMUA TERTAWA. HINGGA SENYAP TAK TERDENGAR LAGI. YANG TERSISA HANYA TOPENG MEREKA.

Pelan-pelan lampu meredup dan pelan-pelan pula layar ditutup.

“Maka selesailah pementasan drama”


KONSEP PEMENTASAN DRAMA / TEATER

“FESTIVAL TOPENG” KARYA BUDI ROS

SUTRADARA : YULIANA

SEMESTER 5.E


Babak

Adegan

Lakon

Tokoh

Setting

Kostum

Make-Up

Musik

Ket

I

1

Di panggung terdapat tiga peserta festival topeng, menari mengelilingi panggung menggunakan topeng dengan berbagai jenis tarian. Suasana semakin meriah ketika peserta menunjukkan aksi mereka, lalu keluar.

- Penari1

- Penari 2

- Penari 3

Disebuah lapangan luas, tempat Festival Topeng digelar.

- Penari 1 :

Kebaya warna merah, kain kebaya, selendang.

- Penari 2 : Kebaya warna kuning, kain kebaya, selendang.

- Penari 3 : Kebaya warna hijau, kain kebaya, selendang.

- Penari 1 : Rambut disanggung, make-up cerah.

- Penari 2 : Rambut disanggul, make-up cerah.

- Penari 3 : Rambut disanggul, make-up cerah.

- Irama jawa.



2

Kasmun, Gubil, dan Mitro masuk. Mereka memperdebatkan berlangsungnya acara festival topeng, dan menanyakan siapa pemenang festival topeng tersebut.

- Kasmun

- Gubil

- Mitro

Disebuah lapangan luas, tempat acara festival topeng digelar. Terdapat kursi untuk penonton dan berbagai jenis topeng.

- Kasmun : Memakai topi bandul, kaos bergaris, rompi, celana pendek, sandal.

- Gubil : Kaos oblong agak kumal, celana pendek.

- Mitro : Baju kemeja coklat, celana panjang dasar hitam, sandal jepit.

- Kasmun : Muka agak lucu, make-up natural.

- Gubil : Rambut panjang dikuncir, raut muka agak lugu, terdapat tompel di pipi kanan.

- Mitro : Rambut belah tengah, muka agak tua (ada kerutan didahi), terdapat kumis tipis.

- Irama tegang.

- Irama gaduh.

- Irama gembira.



3

Muncul panitia untuk menertibkan acara tersebut yang sedang gaduh. Gubil, Kasmun dan Mitro kembali gaduh ketika melihat ada peserta yang memakai topeng warna hijau. Panitia pun menertibkan kembali acara tersebut. Tak lama kemudian, muncul mbah Joyo tanpa menggunakan topeng. Semua warga terkejut atas kejadian ini, karena biasanya mbah Joyo selalu memakai topeng. Kemudian mbah Joyo menjelaskan kepada semua warga bahwa topengnya adalah wajahnya sendiri, lalu menghilang.

- Panitia

- Gubil

- Kasmun

- Mitro

- Mbah Joyo

Dilapangan luas, tempat festival digelar. Terdapat kursi penonton, topeng berwarna

hijau, panggung kecil tempat panitia berpidato.

- Panitia : Kemeja hitam, celana pendek, sandal. Kemeja hitam, celana pendek, sandal.

- Gubil : Kaos oblong warna hijau, celana pendek.

- Kasmun : Memakai topi bandul, kaos bergaris, rompi, celana pendek, sandal.

- Mitro : Baju kemeja coklat, celana panjang dasar hitam.

- Mbah Joyo : Baju jubah hitam, kaos putih, celana dasar hitam.

- Panitia :

Memakai ikat kepala, raut muka tua (terdapat banyak kerutan di wajah).

- Gubil : Rambut panjang dikuncir, raut muka agak lugu, terdapat tompel di pipi kanan.

- Kasmun : Raut muka agak lucu, make-up natural.

- Mitro : Rambut belah tengah, muka agak tua (terdapat kerutan didahi), kumis tipis.

- Mbah Joyo : Rambut agak putih, alis putih, terdapat banyak kerutan, bibir pucat.

- Irama tegang.

- Irama sedih.


II

4

Setelah festival selesai, Kasmun, Mitro, dan Gubil berada di panggung. Mereka mempertanyakan pemenang festival tersebut, dan segera keluar mencari keberadaan Mbah Joyo.

- Kasmun

- Mitro

- Gubil

Di pematang sawah, terdapat padi yang masih hijau dan orang-orangan sawah.

- Kasmun : Memakai topi bandul, kaos bergaris, rompi, celana pendek. Sandal.

- Mitro : Baju kemeja coklat, celana panjang dasar hitam.

- Gubil : Kaos oblong warna hijau, celana pendek.

- Kasmun : Muka agak lucu, make-up natural.

- Gubil : Rambut panjang dikuncir, raut muka agak lugu, terdapat tompel dipipi kanan.

- Mitro: Rambut belah tengah, muka agak tua (terdapat kerutan didahi), kumis tipis.

- Irama gaduh.


III

1

Warti dan Sukasih masuk dengan nafas tersengal-sengal. Mereka menyesalkan acara festival selesai lebih cepat . Kemudian muncul Kasmun dan menjelaskan bahwa mbah Joyo menghilang. Akhirnya Kasmun segera pergi untuk mencari Mbah Joyo, Warti dan Sukasih ikut pergi mencari keberadaan Mbah Joyo.

“Lampu padam”

- Warti

- Sukasih

- Kasmun

Di lapangan luas, tempat acara festival digelar.

- Warti : Kebaya jawa lama warna pink, kain jarik warna putih,selendang.

- Sukasih : Kebaya jawa lama warna coklat muda, kain jarik warna coklat tua, selendang.

- Kasmun : Memakai topi bandul, kaos bergaris, rompi, celana pendek, sandal.

- Warti : Rambut dikepang, muka agak muda, make-up minimalis.

- Sukasih : Rambut disangul, muka agak tua.

- Kasmun: Muka agak lucu, make-up natural..

- Irama gaduh.


IV

1

Panitia berada di panggung. Meraung kesakitan meminta segera dibuatkan jamu oleh Laras istrisnya. Kemudian muncul Laras dengan membawa segelas jamu dan diberikan kepada suaminya. Ternyata jamu tersebut sangat pahit sekali, panitia genggong marah hingga terjadi pertengkaran mulut.

- Panitia

- Laras

Disebuah rumah sederhana, hanya terdapat kursi dan meja sederhana.

- Panitia : Kemeja hitam, celana pendek, sandal.

- Laras : Kebaya jawa lama warna hijau, kain jarik warna hitam, jilbab warna hitam.

- Panitia : Memakai ikat kepala. Muka tua (terdapat banyak kerutan), make-up agak pucat (bibir pucat, dibawah mata terdapat kerutan).

- Laras : Terdapat kain melingkar menutup kepala, make-up berwarna coklat, muka agak tua.

- Irama tegang.



2

Ketika terjadi pertengkaran antara panitia dan Laras, muncullah Jarkoni, Mitro, dan Gubil untuk bertamu di rumah mereka. Jarkoni sebagai lurah ingin berkonsultasi tentang hilangnya Mbah Joyo dan Mitro menjelaskan cara yang digunakan untuk memberitahu kepada warga tentang hilangnya Mbah Joyo.

Ketika Jarkoni menjelaskan maksud kedatangannya, tiba-tiba Panitia kambuh lagi sakitnya karena mendengar bahwa urusannya belum selesai. Laras serba bingung, begitu juga dengan Jarkoni, Mitro, dan Gubil. Akhirnya panitia pingsan dan dibawa masuk.

“Lampu Padam”

- Panitia

- Laras

- Jarkoni

- Mitro

- Gubil

Di rumah sederhana.

- Panitia : Kemeja hitam, celana pendek, sandal.

- Laras : Kebaya jawa lama warna hijau, kain jarik warna hitam, jilbab hitam.

- Jarkoni : Baju adat jawa garis-garis warna coklat, celana dasar panjang warna hitam, peci / kopiah warna hitam.

- Mitro : Baju kemeja coklat, celana panjang dasar warna hitam.

- Gubil : Kaos oblong warna hijau, celana pendek.

- Panitia : Memakai ikat kepala, muka tua (terdapat banyak kerutan, muka pucat bibir pucat, mata sayu).

- Laras : Terdapat kain melingkar dikepala, make-up berwarna coklat, muka agak tua.

- Jarkoni : Memakai peci / kopiah, muka agak tua, make-up (terdapat banyak kerutan diwajah), dan ada kumis tebal.

- Mitro : Rambut belah dua, muka agak tua, make-up coklat, terdapat kumis tipis.

- Gubil : Rambut panjang dikuncir, muka agak lugu, terdapat tompel di pipi kanan.

- Irama tenang.

- Irama tegang.


V

1

Laras berada di panggung.

Hujan cukup deras, ketika Laras duduk di ruang tamu, tiba-tiba Jarkoni datang ingin menemui Panitia, namun Panitia sudah tidur. Akhirnya Jarkoni berterus terang kepada laras menyatakan bahwa sesungguhnya Jarkoni memiliki perasaan yang lebih terhadap Laras, dan terjadilah perselingkuhan. Jarkoni dan Laras akhirnya sama-sama mencurahkan rasa rindu dengan menyanyikan sebuah senandung rindu.

- Laras

- Jarkoni

Disebuah rumah sederhana,

- Laras : Kebaya jawa lama warna hijau, kain jarik warna hitam, jilbab hitam.

- Jarkoni : Baju adat jawa garis-garis warna coklat, celana panjang dasar warna hitam, peci / kopiah.

- Laras : Memakai kain melingkar di kepala, make-up warna coklat, muka agak tua.

- Jarkoni : Memakai peci / kopiah, muka tua (terdapat banyak kerutan), terdapat kumis tebal.

- Irama tenang.

- Irama gembira

Irama terharu.



2

Disaat Laras dan Jarkoni bersenandung, tiba-tiba terdengar suara Panitia meraung kesakitan. Rupanya panitia kambuh lagi sakitnya dan langsung pingsan. Mereka terkejut melihat kejadian ini. Namun ini adalah salah satu kesempatan jarkoni untuk mendapatkan cinta Laras.

Akhirnya panitia pingsan, Jarkoni dan Laras menangis gembira.

“Lampu padam”

- Laras

- Jarkoni

- Panitia

Di rumaah sederhana, hanya terdapat kursi dan meja sederhana.

- Laras : Kebaya jawa lama warna hijau, kain jarik warna hitam, jilbab dasar hitam.

- Jarkoni : Baju adat jawa garis-garis warna coklat, celana dasar panjang hitam, peci / kopiah.

- Panitia : Kemeja hitam, celana pendek, sandal.

- Laras : Memakai kain melingkar di kepala, muka agak tua, make-up warna coklat.

- Jarkoni : Memakai peci / kopiah, muka tua (terdapat banyak kerutan di wajah), memakai kumis tebal.

- Panitia : Memakai ikat kepala, muka tua (penuh dengan kerutan), muka pucat.

- Irama tegang.

- Irama gaduh.

- Irama sedih.


VI

1

Iring-iringan warga ketika berharap atas kedatangan Mbah Joyo. Kasmun dan Gubil memimpin yel tersebut, namun Mitro menghalangi aksi mereka dan menanyakan siapa yang memimpin acara ini.

- Gubil

- Kasmun

- Mitro

Di sepanjang jalan, dan di lapangan luas ditengah desa.

- Gubil : Kaos oblong warna hijau, celana pendek.

- Kasmun : Memakai topi bandul, kaos bergaris, rompi, celana pendek, sandal.

- Mitro : Baju kemeja warna coklat, celana panjang dasar hitam.

- Gubil : Rambut panjang dikuncir, muka agak lugu, terdapat tompel dipipi kanan.

- Kasmun :

- Mitro : Rambut belah tengah, muka agak tua (terdapat kerutan didahi) kumis tipis.

- Irama gembira.

- Irama gaduh.



2

Muncul Jarkoni sebagai lurah desa, menengahi perdebatan kecil diantara mereka. Namun disisi lain Mitro beranggapan bahwa Jarkonilah penyebab hilangnya mbah Joyo. Hingga terjadi pertengkaran antara Jarkoni dan Mitro. Kemudian muncul Mbah Joyo dari suatu arah dengan memberi penjelasan, bahwa dirinya saja tidak tahu siapa yang menculiknya. Akhirnya, untuk mencairkan suasana Mbah Joyo mengumpulkan orang-orang tersebut untuk makan bersama.

Kemudian muncul Laras dengan tangisan yang mengejutkan, dan Laras pun pingsan ditengah-tengah mereka.

“Lampu padam”

- Gubil

- Kasmun

- Mitro

- Jarkoni

- Mbah Joyo

- Laras

Di lapangan luas di tengah desa.

- Gubil : Kaos oblong warna hijau, celana pendek.

- Kasmun :

- Mitro : Baju kemeja warna coklat, celana panjang dasar hitam.

- Jarkoni : Baju adat jawa garis-garis warna coklat, celana dasar panjang warna hitam, peci /kopiah warna hitam.

- Mbah Joyo : Kaos putih, jubah hitam, celana panjang hitam.

- Laras : Kebaya jawa lama warna hijau, kain jarik warna hitam, jilbab hitam.

- Gubil : Rambut panjang dikuncir, muka agak lugu, terdapat tompel dipipi kanan.

- Kasmun : Memakai topi berekor, raut muka agak lucu.

- Mitro : Rambut belah tengah, (terdapat kerutan didahi) kumis tipis.

- Jarkoni : Memakai peci / kopiah, muka tua(terdapat banyak kerutan diwajah), terdapat kumis tebal.

- Mbah Joyo : Muka terdapat kerutan, alis putih, rambut, agak putih, bibir pucat.

- Laras : Memakai kain melingkar dikepala, make-up warna coklat, muka agak tua.

- Irama tegang.

- Irama gaduh.


VII


Jenazah panitia berada ditengah panggung dengan tertutup kain putih. Dikelilingi oleh warga, Laras menangis terus-menerus. Kemudian mbah Joyo datang memberi sambutan dan mendoakan jenazah panitia. Semua telah berakhir, kematian panitia menjadi pelajaran bagi warga desa, bahwa orang yang bersalah pasti akan mendapatkan hukum alam.

“Lampu padam”

- Panitia

- Laras

- Mbah Joyo

Di rumah Panitia.

- Panitia : Kemeja hitam, celana pendek, sandal.

- Laras : Kebaya lama warna hijau, kain jarik warna hitam.

- Mbah Joyo : Kaos putih, jubah hitam, celana panjang hitam.

- Panitia : Memakai ikat kepala, muka agak tua, banyak kerutan diwajah, muka pucat.

- Laras : Memakai kain melingkar dikepala, muka agak tua, make berwarna coklat, muka agak tua.

- Mbah Joyo : Rambut agak putih, alis putih, terdapat kerutan diwajah, bibir pucat.

- Irama haru.

- Irama sedih.


VIII

1

Gubil, Kasmun, Mitro masuk. Mereka bercerita setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Suasana desa sangat sepi setelah kejadian tersebut. Akhirnya Kasmun memecahkan suasana yang sunyi dengan obrolan yang unik. Bahwa ia ingin masuk partai supaya menjadi pemimpin dan mempunyai kekuasaan hanya dengan modal pidato yang pernah di sampaikan saat acara festival topeng.

- Gubil

- Kasmun

- Mitro

Di lapangan luas tempat berlangsungnya acara festival topeng.

- Gubil : Kaos oblong warna hijau, celana pendek.

- Kasmun : Memakai topi bandul, kaos bergaris, celana pendek.

- Mitro : Baju kemeja warna coklat, celana panjang dasar hitam.

- Gubil : Rambut panjang dikuncir, muka lugu, terdapat tompel dipipi kanan.

- Kasmun : Memakai topi berekor, raut muka agak lucu.

- Mitro : Rambut belah tengah, (terdapat kerutan didahi), kumis tipis.

- Irama sunyi.


VIIII

1

Acara festival topeng berikutnya kembali digelar. Festival kali ini sangat meriah dibandingkan dengan festival yang lalu. Karena, para peserta dibebaskan untuk memakai topeng lebih dari satu. ParaPara peserta diantaranya Gubil, Mitro, Kasmun. Mereka ingin menunjukkan topeng-topeng termasyhur yang dimilikinya. peserta festival sangat banyak sekali, Kasmun, Mitro dan Gubil berlompat-lompat kegirangan sambil melepaskan topengnya.

Semua tertawa, suara senyap, yang tersisa di panggung hanya topeng-topeng mereka.

Lampu perlahan-lahan mulai redup, dan diiringi alunan musik yang melankolis

Panggung gelap tanpa cahaya, berakhirlah sebuah cerita.

“happy end”

- Gubil

- Kasmun

- Mitro

Di lapangan luas, tempat digelarnya festival topeng.

- Gubil : Kaos oblong warna hijau, celana pendek.

- Kasmun : Memakai topi bandul, kaos bergaris, rompi, celana pendek, sandal.

- Mitro : Baju kemeja coklat, celana dasar panjang hitam.

- Gubil : Rambut panjang dikuncir, muka lugu, terdapat tompel dipipi kanan.

- Kasmun : Memakai topi berekor, raut muka agak lucu.

- Mitro : Rambut belah tengah, muka agak tua (terdapat kerutan didahi), kumis tipis.

- Irama gembira.

- Irama riang.


Sutradara

Yuliana


MANAJEMEN PEMENTASAN DRAMA/TEATER

“FESTIVAL TOPENG”

KARYA: BUDI ROS

SUTRADARA : YULIANA

SEMESTER 5.E

MANAJEMEN PRODUKSI

1. Pimpinan Produksi : Hilda Ekawinda

2. Sekretaris : Indah Permata Sari

3. Bendahara : Rini Yuliani

4. Dokumentasi : 1. Selly Selviana

2. Agita Nurlina

3. Feni Rahmahayati

5. Tiket : 1. Musriyatun

2. Engga Yunita

3. Merry R. A. Tambunan

6.Humas : 1. Januriah

2. Siska

7. Publikasi : 1. Rica Handayuni

2. Lidia Kandau

8. Perlengkapan : 1. Citra Shara Chintami

2. Sri Rejeki

3. Dwi Rahmawati

9. Konsumsi : 1. Nira Nopriani

2. Hepi Nalamurista

3. Meta Elmaya

10. Perlengkapan : 1. Citra Shara Chintami

2. Sri Rejeki

3. Dwi Rahmawati

11. Transportasi : Zainal Haidir

MANAJEMEN ARTISTIK

1. Sutradara : Yuliana

2. Asisten Sutradara : 1. Yansen

2. Jessica Apriani

3. Pemain : 1. Husuan Hasan sebagai Mbah Joyo

2. Ardami sebagai Genggong

3. Arif Fahrudin sebagai Jarkoni/lurah

4. Ethy setyowati Ningsih sebagai Laras

5. Haryadi sebagai Kasmun

6. Fitriyati sebagai Mitro

7. Sinta Jatriana sebagai Gubil 8. Dahlia sebagai Sukasih

9. Dian sebagai Warti

4. Penata Artistik

  1. Tata kostum : 1. Siti Sulaiha

2. Dewi Hayanti

  1. Tata Rias : 1. Reni Agustina

2. Irmala Nopita Sari

  1. Tata Panggung : 1. Andriyanto

2. Refrita Amelia

  1. Tata Musik : Eko Nurwidianto
  2. Tata Lampu : Marshal Rizal

JADWAL LATIHAN DRAMA KELAS 5.E

“Festival Topeng” Karya Budi Ros

Hari/Tanggal

Materi/Kegiatan

Waktu

Ket

Selasa 27 Oktober 2009

Pembahasan umum

13.00 WIB


Rabu 28 Oktober 2009

Olah tubuh, olah vocal, dramatic reading

13.00 WIB


Selasa 3 November 2009

Olah tubuh, imajinasi, dramatic reading

14.00 WIB


Rabu 4 November 2009

Imajinasi, interpretasi, dramatic reading

14.00 WIB


Kamis 5 November 2009

Karakter dan emosi

14.00 WIB


Selasa 10 November 2009

Blocking, crossing, gesture

14.00 WIB


Kamis 12 November 2009

Grouping dan movement

14.00 WIB


Selasa 17 November 2009

Bekking dan timming

14.00 WIB


Kamis 19 November 2009

Olah sukma, olah vocal,

14.00 WIB


Senin 23 November 2009

Reading, gesture, movement

14.00 WIB


Senin 30 November 2009

Reading, imajinasi

14.00 WIB


Selasa 1 Desember 2009

Olah vocal, tubuh, sukma

14.00 WIB


Kamis 3 Desember 2009

Grouping dan movement

14.00 WIB


Minggu 6 Desember 2009

Olah tubuh, vocal, Penyesuaian panggung

10.00 WIB


Senin 7 Desember 2009

Gesture, movement, crossing

14.00 WIB


Kamis 10 Desember 2009

Olah tubuh, olah vocal, imajinasi

14.00 WIB


Minggu 13 Desember 2009

Olah tubuh,vocal, penyesuaian panggung

10.00 WIB


Kamis 17 Desember 2009

Olah tubuh, vocal, interpretasi

14.00 WIB


Minggu 20 Desember 2009

Penyesuaian panggung

10.00 WIB


Senin 21 Desember 2009

Per pemain plus musik

14.00 WIB


Kamis 24 Desember 2009

Per pemain plus musik

14.00 WIB


Minggu 27 Desember 2009

Penyesuaian panggung

10.00. WIB


Senin 28 Desember 2009

Per adegan plus musik

14.00 wi b


Kamis 31 Desember 2009

Per adegan plus musik

14.00 WIB


Minggu 3 Januari 2010

Penyesuaian panggung

10.00 WIB


Senin 4 Januari 2010

Per adegan, emosi permainan

14.00 WIB


Kamis 7 Januari 2010

Emosi permainan

14.00 WIB


Minggu 10 Januari 2010

Penyesuaian panggung,

10.00 WIB


Senin 11 Januari 2010

Per adegan plus musik, imajinasi

14.00 WIB


Kamis 14 Januari 2010

Per adegan plus musik, imajinasi

14.00 WIB


Minggu 17 Januari 2010

Penyesuaian panggung

10.00 WIB


Senin 18 Januari 2010

Olah tubuh, vocal sukma

14.00 WIB


Kamis 21 Januari 2010

Penyesuaian panggung

14.00 WIB


Minggu 24 Januari 2010

simulasi

10.00 WIB


Senin 25 Januari 2010

Gladi kotor

10.00 WIB


Kamis 28 Januari 2010

Gladi bersih

10.00 WIB


Minggu 31 Januari 2010

Pentas

14.00 WIB


Latar Belakang Pengarang

Budi Ros




Nama :

Budi Ros

Lahir :

Banjarnegara, Banyumas,

Jawa Tengah,

6 Januari 1959

Pendidikan :

Institut Kesenian Jakarta,

Jurusan Teater

Profesi :

Penulis,

Sutradara,

Aktor

Penghargaan :

Pemenang Sayembara Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta, 2003

Lahir di Banjarnegara, Banyumas, Jawa Tengah, 6 Januari 1959. Pernah kuliah di Institut Kesenian Jakarta, Jurusan Teater. Sejak tahun 1985 hingga sekarang bergabung dengan Teater Koma, ia mendalami bidang penulisan, seni peran, dan penyutradaraan. Selama 9 tahun tinggal di sanggar Teater Koma di bilangan Setiabudi (1986-1994).

Kesenian diserapnya sejak ia masih kanak-kanak. Sastra Mihardja, sang ayah, sering mengajak nonton wayang kulit semalaman hingga paginya sering bolos sekolah. Selain itu, wayang orang dan ketoprak seolah jadi tontonan wajibnya. Pasalnya, sang ayah sering nimbrung main setiap ada ketoprak atau wayang orang keliling mentas di kampung.

Pada pagelaran Teater Koma yang ke 110, Budi Ros terkena giliran berkiprah sebagai sutradara. Lakon tersebut di pentaskan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki pada Mei 2006, dengan lakon Festival Topeng. Festival Topeng berhasil menyabet salah satu penghargaan dalam Sayembara Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta 2003.

Mengangkat karya sendiri ke atas pentas, tentu memiliki tantangan yang khas. Dan lakon, biasanya sulit memperoleh peluang untuk dipentaskan, apalagi jika penulisnya tidak memiliki kelompok sendiri. Budi Ros meraih peluang itu, karena dia bergabung dengan kelompok yang peduli terhadap konsep regenerasi. Dalam penyutradaraan, Budi Ros bukan orang baru. Dia banyak menyutradarai lakon-lakon Teater Koma, yang naskahnya juga dia tulis sendiri, di berbagai venue di Jakarta.

Bergabung dengan Teater Koma sejak tahun 1985, tepat pada pergelaran Opera Kecoa yang pertama di TIM. Pada waktu itu, sebagai pemula, dia bekerja secara serabutan. Apa pun dia tangani, baik sebagai pencatat, pelaksana busana, pelaksana artistik, petugas piket, pemegang keuangan, hingga stand-in pada saat latihan jika ada aktor yang absen. Secara tidak langsung dia mempelajari semua pekara yang berkaitan dengan teater. Belakangan dia dipercaya sebagai asisten sutradara N. Riantiarno. Sebagai aktor, dia tekun tapi pendiam. Dan sebagai sutradara, dia penyabar. Dia selalu berkeinginan memberikan ruang kreatif yang seluas-luasnya bagi aktor. Dia senantiasa percaya, aktor mampu mengejar apa yang sesungguhnya dia inginkan.

Sebagai aktor, pengalaman pentasnya sangat bervariasi. Berperan sebagai Macun dalam Sampek Engtay di tahun 1988. Memainkan peran Hanbun, suami ular putih, dalam Opera Ular Putih tahun 1994. Memerankan Semar dalam Semar Gugat tahun 1995, Nata Sasmita Picum, Raja Pengemis, dalam Opera Ikan Asin tahun 1997, Kala dalam Kala tahun 2001, Romeo dalam Roman Yulia tahun 2002, Tibal dalam Opera Kecoa tahun 203 dan Samiaji dalam Republik Togog tahun 2004, Martin dalam Kenapa Leonardo tahun 2008 dan menjadi Petruk dalam Republik Petruk tahun 2009.

(Dari Berbagai Sumber)

Latar Belakang Sutradara

"FESTIVAL TOPENG"

Bertempat di kabupaten OKI, kecamatan Mesuji Raya, Ds. Sukasari pada tanggal 28 Mei 1989, lahirlah anak ketiga dari pasangan Cikwi Nangcik dan Sutrisni. Kedua orang tuanya memberi nama Yuliana. Masa pendidikannya dimulai dari jenjang SDN D2A Sukasari, SMPN 3 Mesuji, SMAN 2 Palembang. Hingga sekarang masih menempuh pendidikan di Universitas PGRI Palembang, Jurusan FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia. Saat ini, ia berperan sebagai sutradara pada naskah drama Festival Topeng karya Budi Ros. Pengalaman ketika bergabung dengan organisasi teater sebagai tim artistik, menjadi penyemangat untuk mengembangkan kemampuan di dunia teater. Ia, Sangat mengharapkan partisipasi kita terhadap nilai seni pada sebuah karya sastra.

“Sikap diam adalah seni yang terhebat dalam suatu pembicaraan”

“Sutradara : Yuliana”

KONSEP KOSTUM

NASKAH DRAMA “ESTIVAL TOPENG”

KARYA BUDI ROS

SUTRADARA: YULIANA

SEMESTER 5.E

KONSEP MAKE-UP

NASKAH DRAMA “ESTIVAL TOPENG”

KARYA BUDI ROS

SUTRADARA : YULIANA

SEMESTER 5.E

KONSEP TATA PANGGUNG

NASKAH DRAMA FESTIVAL TOPENG

KARYA BUDI ROS

SUTRADARA: YULIANA

SEMESTER 5.E

KONSEP TATA LAMPU

NASKAH DRAMA FESTIVAL TOPENG

KARYA BUDI ROS

SUTRADARA: YULIANA

SEMESTER 5.E

Keterangan Gambar :

1,2 dan 3 = Level

4 =Kursi

5 = Ranting Pohon












1 komentar:

FestiVaL tOpeNg mengatakan...

Blogy bagusss,,,,,,
Bisa menambah pengetahuan..

go...Festival Topeng...!!!

Posting Komentar